Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 April 2013

Memahami Tangis Balita


clip_image002
Sumber gambar : http://olalababies.files.wordpress.com/2013/03/tangisan-bayi1.jpg?w=300&h=166
Mempunyai balita yang selalu menangis..atau katakan sering menangis. Tangisan balita tersebut sering membuat orang tua stress atau setidaknya marah-marah. Bahkan mungkin ada yang sengaja “cuek” atau pasrah dengan membiarkan menangis sampai berhenti sendiri.
Penyebab umum tangis balita adalah ketidaknyamanan, misalnya karena merasa lapar, kedinginan atau mengalami kesakitan.
Ada sebuah cerita kecil, pada malam hari ada bayi yang menangis. Dirayu dengan segala macam tidak mau. Akhirnya ada seorang tetangga, iseng-iseng memeriksa seluruh tubuh bayi tersebut. Ternyata ada seekor semut yang menggigit paha bayi tersebut. Setelah dibuang dan diobati, bayi tersebut pun tidur dengan nyaman.
Pelajaran yang didapat dari cerita tersebut adalah bahwa bayi atau balita pun punya masalah. Ketika kita menanganinya tidak tepat, maka apa yang kita lakukan pun tidak membuahkan hasil. Jadi bagi orang tua tidak usah terlalu panik atau mengatakan bayinya selalu rewel.
Menangis adalah satu-satunya cara (menurut balita) untuk menyampaikan maksud dan keinginannya. Sering kali ditemukan seorang ibu yang berkata dengan keras,”Ibu gak ngerti kalau kamu gak ngomong!” Mungkin benar jika anak yang dihadapinya sudah berusia 3 atau 4 tahun. Tetapi ketika anak tersebut tidak mau ngomong bukan berarti kita harus marah atau teriak-teriak. Seringkali anak ketakutan kalau permintaannya tidak dipenuhi bahkan dimarahi.
Sering kita mengalami ketika membawa anak yang berusia 3 -5 tahun ikut belanja, seringkali tidak mau pulang, ditanya tidak menjawab, bahkan akhirnya mengamuk. Tentunya sangat merepotkan apalagi jika kita tipenya mudah risih dengan tatapan dari penjual atau pembeli yang lain. Cobalah sekali-kali perhatikan raut muka dan tatapan anak tersebut, ketika sedang berjalan kita. Ada kalanya kita berjalan cepat atau menutupi pandangan anak, ketika kita melewati tempat yang menarik bagi anak, misalnya rak tempat dijualnya berbagai mainan. Oh, berarti anak tersebut sempat melihat mainan yang menarik hatinya. Jika kita berkenan membelikan, ya langsung kembali ke tempat tersebut tanpa perlu marah-marah memaksa anak pulang. Intinya peka dengan apa yang diinginkan anak.
Mengamati perilaku dan menebak keinginan anak kita sebagai kunci untuk memahami balita kita
Agar balita kita mau mengerti keinginan orang tuanya, maka kita juga harus mau mengerti apa keinginan mereka. Ciptakan komunikasi yang hangat, misalnya dengan memberikan sentuhan, bersenandung kecil, atau bahkan ajarkan balita untuk mencium kita. Dengan mencium kita diharapkan mereka lebih dekat dengan lebih memahami bau yang khas keluar dari tubuh kita. Kelihatan aneh ya?
Dalam buku 20 Langkah Menghentikan Tangis Anak yang dituliskan oleh Abdullah Muhammad Abdul Mu’thi (terjemahan), mengutip nasehat dari Malik bin Nabi, yaitu “ Jika kamu selalu mengabulkan permintaannya karena ia menangis, maka sungguh amat jelek didikanmu kepadanya. Jika kamu melakukannya berarti kamu telah mengajarinya bahwa tangisan adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan sesuatu dalam kehidupan ini. Kemudian dia akan tumbuh besar bersamaan dengan berlalunya waktu. Dan pada suatu ketika dia akan pergi ke gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa sambil menangis untuk menuntut haknya yang hilang di medan perang.”
Dari kata-kata tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ketika tangis balita sebagai satu-satunya cara agar segala keinginannya tercapai maka bukan berarti kita haru selalu memenuhi segala keinginan anak-anak kita. Bahasa sekarang adalah gak usah galau ketika anak-anak atau balita kita menangis.
Kita hanya perlu beberapa strategi agar balita kita menjadi lebih bijak (bukan hanya kita saja yang harus bijak tentunya). Bentakan-bentakan hanya membuat balita atau anak-anak kita diam sesaat. Selanjutnya bisa saja anak-anak kita tidak mau menangis lagi..merasa putus asa yang berakibat mereka menjadi pribadi yang tidak mau terbuka pada orang tuanya. Atau sebaliknya mereka bisa menjadi pribadi yang lebih kasar atau kehilangan rasa hormat kepada orang tuanya.
Ada 20 langkah menghentikan tangis balita atau anak kita, yang dijelaskan dalam buku karangan Abdullah Muhammad Abdul Mu’thi, sebagai berikut :
1. Tolong, gunakan kata-kata bijak
2. Pujilah jika dia berperilaku baik
3. Jus air mata
4. Ajarilah anak tentang frekuensi suara
5. Mengalihkan perhatian dengan cara yang cerdik
6. Ulangi dan mintalah yang sopan
7. Tinggalkan sejenak
8. Kamar kemarahan
9. Ini foto saat kamu menangis
10. Tiga cara jitu
11. Terapi uang
12. Mengajarkan cara marah
13. Tiga menit untuk menangis
14. Berikan batasan waktu
15. Bergurau dan memeluk
16. Pesta tangis keluarga
17. Solusi tengah
18. Analisislah penyebab tangisan
19. Anak Anda menangis di depan umum
20. Anakku, belajarlah dengan baik
Semoga tulisan ini bermanfaat.

Jumat, 15 Februari 2013

Meningkatkan Nafsu Makan Anak atau Balita Anda

 

clip_image002

Menginjak usia satu sampai dua tahun, anak Anda melakukan mogok makan. Apa yang Anda rasakan? Stress, frustasi atau biasa-biasa saja. Apakah akan semakin perhatian sama anak Anda atau sering marah-marah?

Mengapa mogok makan?

Ada beberapa hal yang membuat si anak tidak mau makan. Salah satunya karena anak terlalu asyik dengan dunianya. Misalnya, anak kita sedang asyik main mobil-mobilan bareng teman-temannya. Ketimbang kita mengganggu konsentrasi anak tersebut dengan menyuruhnya berhenti untuk makan, mending kita ikut bergabung sambil pelan-pelan menyuapi.

Atau juga anak kita sedang melakukan protes dengan “mogok” makannya. Kok bisa ya? Mungkin saja kita sebagai orang tua atau mungkin “tukang momong”nya suka memaksakan ini itu atau melarang ini itu yang berakibat anak kita melawan dengan gerakan mogok makan. Apa mungkin balita bisa berpikir kayak gitu? Jangan salah karena umur-umur satu sampai dua tahun anak kita senang sekali meniru sekaligus membantah dan juga mencari-cari alasan.

Misalnya, disuruh makan. Alasannya kalau acara di TV selesai..ketika sudah selesai..alasan lagi mau mainan sebentar..atau mau makan tapi syaratnya sambil jalan-jalan. Ketika kita sudah menuruti, ternyata balita kita pun tidak mau makan atau makan sedikit dan mencari alasan lain.

Dan, faktor jajanan juga sangat menentukan sekali. Ketika anak sudah mengenal makanan yang gurih-gurih (baca juga makanan ber-MSG), bisa dipastikan bahwa balita kita enggan untuk makan makanan buatan kita sendiri. Atau juga mereka sudah mengenali makanan/minuman yang manis, misalnya pada susu-susu yang djual dalam berbagai kemasan, dapat dipastikan mereka merasa kenyang dan enggan menikmati makanan/minuman di rumah.

Berbagai tip

Berikut berbagai tip yang bisa dilakukan agar anak Anda mau makan

- Berikanlah makanan anak sesuai dengan usia dan perkembangannya

- Variasikanlah menu, perubahan rasa, keragaman dan penyajian yang diperlukan agar anak tidak cepat bosan

- Lebih baik memberi makanan yang padat gizi dan berenergi tinggi dalam porsi kecil daripada cemilan yang akan mengganggu timbulnya lapar, sehingga kecukupan energi dan nutrisi anak terpenuhi

- Biasakan makan teratur dan beri makanan pada anak sewaktu merasa lapar

- Ciptakan suasana yang menyenangkan dan buatlah acara makan menjadi saat yang menggembirakan buat anak

- Jika diperlukan, berikan suplementasi vitamin dan mineral

(Endang Winarsho, 2009)

KREATIF DAN MENYENANGKAN

Dua kata kunci yang bisa dilakukan orang tua agar anak atau balita kita mau makan yaitu “KREATIF” dan “MENYENANGKAN”.

Membuat kue dengan berbagai bentuk yang menarik, seperti menyerupai binatang tentu lebih menarik ketimbang membuat cetakan yang biasa-biasa. Kita sering melihat jajanan dipasaran yang seharusnya dihindari tetapi karena dibuat menarik akhirnya anak kita tergila-gila. Bukan sekedar rasanya yang manis (jelas menggunakan pemanis buatan) tetapi bentuknya menjadi daya tarik tersendiri. Sebagai orang tua kita juga harus “LEBIH KREATIF” ya..jangan sampai makanan kita dikalahkan dengan jajanan yang dipilih anak.

Anak atau Balita Anda suka bermain, maka kita orang tua juga harus suka bermain. Mengerti dulu apa yang dimaui mereka baru kita bisa dimengerti olehnya. Berbagai paksaan yang kita lakukan agar anak mau mau bukan saja membuat mereka enggan tetapi membuat suasana makan menjadi tidak nyaman. Atau mungkin juga, sebenarnya anak belum lapar tetapi kita tidak memahaminya. Anak yang sedang jengkel, marah atau katakan suasana hatinya lagi gak baik alias bad mood (kok bisa ya..) tentunya membuat mereka enggan makan. Pahamilah mereka dan selalu ciptakan suasana yang “MENYENANGKAN”.

Sumber :

Winarsho, Endang. 2009. Agar Si Kecil Mau Makan. Yogyakarta : IN AzNa Books

Gambar :

Sumber gambar : http://berita-kesehatan-coy.blogspot.com/2012/04/cara-meningkatkan-nafsu-makan-balita.html

Minggu, 27 Januari 2013

PERAN ORANG TUA DALAM MEMBANGUN KARAKTER ANAK

image

Betapa pentingnya peran orang dalam membangun karakter anak-anaknya. Anak-anak tersebut adalah generasi penerus yang diharapkan dapat berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Tulisan sederhana ini  akan dibahas mengenai peranan orang tua dalam membangun karakter anak-anaknya sehingga mereka bisa menjadi pribadi yang berkarakter. Yang namanya berkarakter contohnya religius, menghormati orang tua, sopan, percaya diri, bertanggung jawab, jujur, disiplin, mandiri, mau bekerja sama, dan lain-lain.

Sebagai awal, ada rumus 5 + 3 + 3 atau 11 kebiasaan dalam membangun karakter anak.

Yang pertama, terkait dengan 5 sikap dasar yaitu :

1.    Membangun sikap jujur dan tulus dengan berani mengatakan mana yang benar dan mana yang salah

2.    Terbuka

3.    Berani mengambil resiko dan bertanggung jawab dengan membela kebenaran dan keadilan

4.    Konsisten terhadap komitmen dengan selalu menepati janji, perkataan sesuai dengan perbuatan

5.    Sikap bersedia berbagi

Yang kedua, terkait dengan 3 syarat yang harus dilakukan

1.    Dengan niat yang bersih mengawali suatu pekerjaan (Nawaitu)

2.    Tidak mendahului kehendak Yang Di Atas agar apa yang kita rencananya mendapat ridho-Nya (Insya Allah)

3.    Bersyukur kepada-Nya atas hasil yang didapat, meskipun hasilnya tidak sesuai keinginan (Alhamdulillah)

Untuk melengkapi 5 sikap dasar dan  3 syarat tersebut diperlukan 3 cara sebagai berikut :

1.    Mencanangkan hasrat untuk berubah melalui do’a dan ibadah

2.    Mewujudkan perubahan dengan memanfaatkan anugrah Ilahi  (self awarness, consciousness, imagination, independent will) yang diberikan kepada kita, sebagai pembeda diri kita dengan makhluk ciptaan lain.

3.    Siap menjadi suri tauladan

Yang menjadi pertanyaan, karakter tersebut bisa dirubah atau tidak?

Setidaknya ada dua pendapat tentang pembentukan karakter. Pendapat pertama mengatakan bahwa karakter merupakan bawaan sejak lahir yang tidak dapat atau sulit dirubah. Pendapat kedua berpendapat bahwa karakter dapat dirubah atau dididik melalui pendidikan.

Pendapat yang kedua ini sesuai dengan Surat Ar Ra’du ayat 11 yang artinya “..sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri sendiri…”

Konsep pendidikan, sudah ada sejak dulu seperti yang dicanangkan oleh Ki Hajar Dewantoro

Ing ngarso sung tuladha (Di depan memberi teladan)

Ing madya mbangun karsa (Di tengah membangun kehendak)

Tut wuri handayani ( Di belakang memberi dorongan)

Pembinaan karakter harus dimulai sejak dini. Misalnya sejak usia 2 atau 3 tahun kreativitas anak-anak dirangsang melalui dunia bermainnya.

Di sini orang tua harus sabar untuk menerima keadaan anak-anaknya dan tidak mudah mengkritik. Biarkan anak bebas dalam mengungkapkan perasaannya.

Cara lain membiasakan anak rajin bekerja. Anak-anak perlu dilatih tanggung jawab siapa yang menyapu rumah, membuang sampah, memasak nasi, membersihkan rumah, dan sekaligus kamar sendiri tentunya.

Barangkali pada awalnya anak-anak  merasa bahwa kita sebagai orang tua yang “jahat”, otoriter, maupun dianggap suka memaksa.

Dan yang jauh lebih penting ajarilah mereka langsung dengan tauladan bukan dengan banyak kata-kata.

“Jangan mengkhawatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati Anda” – Robert Fulghum

Demikian juga sebagai orang tua jangan terlalu mudah melarang tetapi harus mengarahkan. Misalnya anak-anak kecil yang sukanya corat-coret di tembok jangan dimarahi begitu saja. Yang dikhawatirkan ketika umur bertambah, kreativitas mereka justru hilang.

Ada dua hal yang yang harus mulai ditinggalkan orang tua yaitu terlalu memanjakan anak dan kegemaran serba melarang.

Secara umum, karakter anak dibagi menjadi 4, yaitu

1.    Anak yang suka mendominasi/mengatur

2.    Anak yang suka bergaul

3.    Anak yang selalu tenang à teratur, tidak mudah terpengaruh

4.    Anak yang teliti (melakukan sesuatu harus sempurna)

Sebagai orang tua kita harus memiliki pendekatan yang berbeda dalam menghadapi karakter anak-anak kita.

Misalnya :

1.    Untuk menghadapi anak yang suka mendominasi kita bisa mengajarkan mereka dengan memberikan berbagai tugas yang menantang dan cara menghargai orang lain

2.    Untuk menghadapi anak yang suka bergaul kita harus mengenali teman-teman anak kita dan sering mengajaknya berbincang-bincang

3.    Untuk menghadapi anak yang tenang kita mengajaknya untuk menyusun rencana bersama-sama serta menamankan mereka untuk menyelesaikan masalah bukan lari dari masalah

4.    Untuk menghadapi anak yang yang teliti kita bisa selalu mengingatkan bahwa kesempurnaan adalah milik Tuhan dan tanamkan pada mereka sikap kerja sama maupun bersosialiasi.

Jadi apa yang terjadi pada anak-anak kita sekarang bukan semata-mata bentukan mereka sendiri tetapi banyak dipengaruhi oleh lingkungan, istimewanya lingkungan rumah.

Mengutip pendapat seorang pakar (Dorothy Law Nollte) :

Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri

Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya

Tauladan, tidak memanjakan, dan tidak mudah melarang menjadi patokan bagi kita bagi orang tua untuk membangun karakter anak-anak kita.

 

Referensi : Aqib, Zainal. 2011. Pendidikan Karakter : Membangun Perilaku Bangsa. Yrama Widya.

www.pendidikankarakter.com